Sektor Pesisir, Kelautan dan Perikanan

Sektor Pesisir, Kelautan dan Perikanan merupakan salah satu sektor unggulan berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 2012-2017. Pemilihan sektor ini sebagai sektor unggulan sangat tepat karena Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 79,90% wilayahnya merupakan kawasan perairan. Luas perairan Bangka Belitung sekitar 65.301 kmdengan panjang garis pantai 1.200 km2.

Letak geografis yang cukup menguntungkan menjadi keunggulan komparatif dan kompetitif dalam meningkatkan produksi perinanan tangkap, khususnya produk perikanan laut. Sektor ini memiliki peranan yang sangat penting dalam berkontribusi bagi perekonomian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Potensi yang besar tampak dari produksi hasil perikanan laut meningkat tajam. Peningkatan tajam tampak pada tahun 2013 yang mencapai 17.000 ton jika dibandingkan tahun sebelumnya yang produksinya hanya sebesar 8.500 ton.

Sebagai provinsi kepulauan, Bangka Belitung memiliki potensi besar untuk mengembangkan subsektor perikanan tangkap. Namun, potensinya yang besar belum seutuhnya dimanfaat secara optimal untuk dikembangkan. Apabila mengacu pada hasil tangkapan di beberapa provinsi di Indonesia, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terbilang masih cukup rendah. Pasalnya, dengan luas wilayah perairan dan kekayaan sumber daya yang ada, belum seutuhnya dimanfaatkan.

 

Pengembangan subsektor perikanan tangkap akan memengaruhi kontribusi sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dalam kontribusinya terhadap PDRB. Pengembangan subsektor perikanan tangkap akan menjadi tulang punggung bagi daerah dalam meningkatkan PDRB-nya. Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung produksi perikanan tangkap baru seperlima dari potensi produksi perikanan tangkap. Kondisi ini menggambarkan bahwa produksi perikanan tangkap memiliki peluang yang cukup besar untuk dikembangkan. Permasalahan rendahnya produksi perikanan tangkap di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung harus segera diatasi agar mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di provinsi ini. Selain itu, kontribusinya yang cukup besar terhadap PDRB berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah yang sempat melambat.

 

Beberapa lokasi (spot) yang dapat dikembangkan untuk sektor perikanan adalah:

  • Di Kabupaten Bangka Barat, sector perikanan tangkap dapat dikembangkan di Kecamatan Muntok. Berdasarkan data statistik, produksi penangkapan ikan di tahun 2015 pada Kecamatan ini sebesar 4.100 ton dan dengan nilai sebesar 83 miliar Rupiah.
  • Sementara di Kabupaten Bangka, terdapat dua titik yang dapat dikembangkan bagi sector perikanan, yaitu Kecamatan Belinyu dan Kecamatan Sungailiat. Di tahun 2015, Kemacatan Belinyu mampu menghasilkan tangkapan sebesar 4.300 ton dengan nilai sebesar 126 miliar rupiah. Kemudian Kecamatan Sungailiat mampu menghasilkan tangkapan sebesar 8.900 ton dengan nilai 197 miliar Rupiah.
  • Di Kabupaten Bangka Tengah, potensi perikanan tersentral di Kecamatan Koba dan Sungaiselan. Berdasarkan catatan statistic, Kecamatan Koba pada tahun 2015 menghasilkan tangkap ikan 9.100 ton dengan nilai 210 miliar Rupiah. Kemudian, Kecamatan Sungaiselan menghasilkan 3.188 ton dengan nilai 50,7 miliar Rupiah.
  • Sektor perikanan di Bangka Selatan, tersentral di Kecamatan Lepar Pongok. Di tahun 2015, produksi perikanan disektor ini mencapai 15.457 ton dengan nilai sebesar 277 miliar Rupiah.
  • Di Kabupaten Belitung, produksi perikanan utamanya tersentral di Kecamatan Sijuk dengan jumlah produksi 30.794 ton dengan nilai 423 miliar Rupiah. Kemudian disusul oleh Kecamatan Selat Nasik dengan jumlah produksi 5.500 ton senilai 268 miliar Rupiah.
  • Di Kabupaten Belitung Timur, produksi perikanan terletak di Kecamatan Manggar dan Gantung dengan produksi sebesar 12.125 ton senilai 217 milyar rupiah dan 7.706 ton mencapai 138 milyar rupiah.

 

 

Analisis Biaya Manfaat Subsektor Perikanan Tangkap

Analisis biaya dan manfaat akan mencoba menjelaskan proses produksi perikanan tangkap untuk mendorong dan mengembangkan potensi perikanan tangkap di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Hasil analisis biaya dan manfaat menunjukkan bahwa investasi untuk kapal besar memiliki tingkat pengembalian yang lebih baik. Dengan biaya investasi yang besar mampu mencapai titik produksi yang lebih optimal. Hal itu tampak dari nilai IRR yang lebih besar untuk kapasitas produksi yang lebih besar. Kondisi ini tertuang dari beberapa analisis sebagai berikut.

a. Analisis Investasi

Investasi untuk pembelian kapal, mesin dan alat tangkap untuk kapal berukuran 30 GT sebesar Rp. 2 milyar. Modal investasi kapal dan peralatannya ini berasal dari modal pinjaman dari bank atau lembaga keuangan. Pengembalian pinjaman ini akan kembali dalam waktu 5 tahun.

b.  Analisis Pendapatan

Pendapatan dari perikanan tangkap diterima dari penjualan  hasil tangkapan ikan. Nilai penjualan ikan pun dipengaruhi oleh harga komoditas ikan hasil tangkapan dan jenisnya. Asumsi penerimaan dari penjualan ikan diperkirakan mengalami penambahan nilai sebesar 8 persen, hal ini seiring dengan besarnya potensi terhadap produksi yang memiliki selisih yang cukup besar.

c. Analisa Pengeluaran

Pengeluaran dari kegiatan perikanan tangkap berasal dari pengeluaran tetap, pengeluaran variabel, dan biaya upah tenaga kerja. Pengeluaran tetap meliputi biaya perawatan kapal, perawatan mesin, dan perbaikan alat tangkap. Pengeluaran variabel mencakup perbekalan melaut dan biaya bahan bakar.

d. Analisis Kelayakan Finansial

Penilaian investasi diketahui dengan menghitung aliran kas masuk dan aliran kas keluar. Biaya investasi kapal yang mencapai Rp.1,3 Milyar dan Rp.2 Milyar untuk masing-masing kapal dengan ukuran 10-15 GT dan 30 GT. Berdasarkan hasil tersebut bahwa investasi tersebut menghasilkan IRR 39,14 persen kapal 10-15 GT dan IRR 46,72 persen dengan kapal 30 GT. Mengacu pada periode investasi 10 tahun menyebabkan maka investasi kapal pada perikanan tangkap layak dari analisa finansial.

 

Updated : 16/12/2016/YH