Sektor Pariwisata

Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor unggulan yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain wisata pantai dengan batu granit dan pasir putihnya, potensi lain yang ditawarkan pada sektor ini adalah wisata budaya, wisata kuliner, wisata sejarah serta wisata pulau. Peluang investasi masih sangat terbuka untuk sektor pariwisata.

Kondisi Terkini

Pada tahun 2015, di Kepulauan Bangka Belitung terdapat 133 hotel/losmen dengan 3.793 kamar tidur dan 5.372 tempat tidur. Dari 285.329 kunjungan tamu di Kepulauan Bangka Belitung, 99,17 persen adalah tamu domestik dan 0,83 persen tamu asing. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bangka Belitung sebanyak 4.396.731 wisatawan domestik dan 4.851 merupakan wisatawan asing.

Hotel berbintang dan resort yang beroperasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, antara lain Hotel Novotel, Hotel Soll Marina, Hotel Santika, Hotel Bumi Asih, Hotel Grand Mutiara, Parai Beach and Resort, Tanjung Pesona Beach and Resort, Grand Bahamas, Grand Hatika, Lor-in Resort, dan lain-lain.

Dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS) yang kemudian dituangkan dalam Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2011, Provinsi Kepulauan Kabupaten Belitung termasuk dalam Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) Palembang-Bangka Belitung dan sekitarnya. Selanjutnya dalam DPN tersebut, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki empat Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN) dan sebuah Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Adapun yang termasuk dalam KPPN yaitu Pangkalpinang, Sungailiat, Belinyu, Tanjung Kelayang serta Punai Belitung dan sekitarnya.

 

Senada dengan RIPPARNAS yang digulirkan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah dalam hal ini adalah Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah melakukan serangkaian kajian mengenai Strategi Pembangunan Destinasi Unggulan dan Desa Wisata di Kepulauan Bangka Belitung di tahun 2012. Dalam kajian tersebut telah ditetapkan berberapa kawasan yang akan dikembangkan oleh pemerintah provinsi, yakni: 1) kawasan wisata Muntok; 2) Kawasan Wisata Sungailiat dan sekitarnya; 3) Kawasan Tanjung Pinang dan Sekitarnya; 4) kawasan Wisata Toboali dan sekitar; 5) kawasan Wisata Gugusan Pulau Selat Gaspar dan sekitarnya; 6) kawasan Wisata Pulau Belitung.

***********

Peluang investasi yang ditawarkan antara lain adalah sektor penunjang kegiatan pariwisata, seperti penyediaan sarana akomodasi (hotel atau penginapan) dan penyediaan makanan minuman (restoran). Adapun daerah yang sangat potensial untuk pengembangan potensi pariwisata adalah:

  • Di Kabupaten Bangka Barat, daerah yang paling ideal untuk didirikan fasilitas pariwisata adalah di Kecamatan Muntok. Hal ini karena, Kecamatan Muntok adalah ibu kota kecamatan di Kabupaten Bangka Barat dan juga merupakan pintu masuk pelabuhan barang bagi Pulau Bangka.
  • Pada Kabupaten Bangka, titik ideal untuk didirikan hotel dan restoran adalah di Kecamatan Sungailiat. Agrumentasi utamanya adalah di kecamatan tersebut terdapat banyak pantai-pantai yang eksotis seperti Pantai Tikus, Pantai Rebo, Pantai Parai.
  • Kemudian untuk Bangka Tengah, fasilitas hotel dan restoran sebaiknya dibangun di Kecamatan Pangkalan Baru. Hal ini karena, Kecamatan Pangkalan Baru lokasinya berdekatan dengan Ibu Kota Provinsi (Kota Pangkal Pinang).
  • Di Kabupaten Bangka Selatan, idealnya fasilitas pariwisata didirikan di Kecamatan Toboali sekaligus ibu kota kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan.
  • Di Kabupaten Blitung, terdapat dua lokasi ideal yaitu di Kecamatan Tanjungpandan dan Kecamatan Sijuk. Kecamatan Tanjungpandan adalah ibu kota kecamatan bagi kabupaten ini. Sedangkan di Kecamatan Sijuk, pada saat ini ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusu (KEK) Pariwisata Sijuk, sehingga ideal untuk dikembangkan sebagai kawasan perhotelan.
  • Sedangkan untuk Belitung Timur, maka kawasan yang paling ideal adalah terletak di Kecamatan Manggar.

ANALISIS FINANSIAL

Seorang calon investor sebelum melakukan investasi tentu akan melakukan uji kelayakan terhadap berbagai peluang investasi yang ditawarkan. Uji kelayakan tersebut meliputi kelayakan lokasi dari sisi geografis, segi hukum dan kelayakan finansial. Beberapa atribut uji kelayakan finansial seperti NPV, IRR dan Payback Period umumnya menjadi acuan utama yang dilihat oleh calon investor. Dari hasil analisis pasar, bentuk hotel yang berpotensi untuk dikembangkan di Kepulauan Bangka Belitung adalah hotel berbintang (khususnya hotel bintang 3) atau resort dengan segmen pasar utama yaitu keluarga.

a. Analisis Investasi

Investasi awal untuk pendirian hotel dan resort meliputi pembelian lahan, biaya pembuatan bangunan dan instalasi, biaya pembelian aset tetap bergerak, biaya perekrutan pegawai, dan biaya yang dikeluarkan untuk pengurusan izin dan sebagainya. Harga lahan di Provinsi Bangka Belitung cukup bervariasi dimana ditentukan oleh tingkat keterjangkauan dan ketersediaan infrastruktur pendukung seperti rumah sakit, bandara, pelabuhan, dan sebagainya. Untuk daerah di pinggir kota dengan akses cukup memadai harga tanah rata-rata Rp 870.000,00 (beberapa lokasi memiliki harga jual lebih tinggi). Untuk membangun sebuah resort diperlukan lahan cukup luas. Kebutuhan ideal sebuah resort, sebagai berikut: lahan 20 hektar dimana dengan luas bangunan berkisar 9,5 hektar (30 persen untuk kamar, 70 persen untuk area lainnya). Total biaya investasi awal yang diperlukan untuk sebuah resort bisa mencapai Rp69.787.387.670,00 yang terdiri dari pembelian lahan, biaya pembangunan, biaya pengurusan izin, pembelian aset tetap lainnya dan biaya perekrutan pegawai. 

b. Analisis Pendapatan

Untuk memperoleh tingkat pendapatan optimal, pihak hotel terlebih dahulu harus menghitung tingkat sewa minimum (r) sehingga harga sewa kamar per hari dapat ditetapkan. Tingkat sewa minimum diperoleh ketika pendapatan kotor sama dengan total biaya. Pendapatan kotor sebuah hotel dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

R=e×a×L×365×r

dimana, e = Koefisien pendapatan hotel (umumnya 2,5)

R = Pendapatan bruto

a = Tingkat penghunian kamar

L = Jumlah luas kamar

r = Harga sewa kamar per m2 (Rp/m2)

 

Nilai L dapat dihitung dengan menggunakan estimasi jumlah kamar yang akan dibangun. Berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Pariwisata Nomor Kep-22/U/VI/78, hotel bintang 3 memiliki kriteria sebagai berikut: jumlah kamar standar minimum 50 kamar, kamar suite minimum 3 kamar, kamar mandi di dalam, luas kamar standar minimum 30 m², luas kamar suite minimum 48m². Adapun rencana pembangunan hotel pada kasus ini sebagai berikut:

 

Berdasar data BPS, rata-rata Tingkat Penghunian Kamar untuk hotel bintang 3 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai 40% - 47% per tahun sehingga pada estimasi TKP yang digunakan sebesar 45%. Untuk memperoleh pendapatan optimal, maka investor/ manajer hotel harus menghitung terlebih dahulu harga sewa kamar per m2 dengan cara membagi total biaya dengan pendapatan bruto seperti berikut:

r=  (Total biaya)/(2.5×45%×2160×365)

r=18.160.821.677,47/886.950

r=20.475,58

Kemudian dengan mempertimbangkan biaya pajak sebesar 21% dan keuntungan untuk investor, maka harga sewa kamar optimal berkisar Rp 26.000/m2. Sehingga dengan menggunakan kembali rumus pendapatan bruto (Hartono Poerbo, 1998) maka estimasi potensi pendapatan pada tahun pertama sebagai berikut:

R=2,5×45%×2160×365×26000=  Rp 24.592.331.250

c. Analisis Pengeluaran

Biaya operasional atau working capital dapat dibagi menjadi biaya untuk sumber daya manusia (gaji dan training), pembelian bahan baku, pembayaran tagihan listrik dan air, premi asuransi, pembayaran cicilan pinjaman, biaya pemasaran dan sebagainya. Biaya rutin ini baru akan muncul setelah hotel beroperasi. Jika diasumsikan pembangunan hotel memakan waktu selama satu tahun, maka biaya ini baru akan muncul di tahun berikutnya. Namun demikian, jika investor menggunakan dana pinjaman dari pihak ketiga maka bunga pinjaman harus diperhitungkan sejak masa pembangunan (tahun ke-0). Adapun pilihan pinjaman yang biasa digunakan oleh investor untuk proyek seperti resort yaitu pinjaman jangka panjang misalnya dengan tenor 15 tahun atau 180 bulan.

Umumnya biaya operasional hotel mencapai 30 – 40 persen dari total pendapatan. Pada kasus sebuah resort berbintang, biaya operasional meliputi belanja untuk SDM, pembelian bahan, belanja energi, belanja pemasaran, biaya bunga pinjaman dan sebagainya bisa mencapai Rp 14 milyar per tahun.

d. Analisis Kelayakan Finansial

Penilaian investasi diketahui dengan menghitung aliran kas masuk dan kas keluar. Dengan biaya investasi awal mencapai Rp. 69.678.738.760,00 dengan tingkat inflasi 5% dan kenaikan upah tenaga kerja 7% per tahunan maka diperoleh nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp.15.332.638.668,50 dalam 15 tahun pertama. Sementara investasi akan dapat kembali (payback period) pada tahun ke-12 dengan nilai Internal Rate of Return (IRR) sebesar 16% (di atas 12%). Berdasarkan ketiga kriteria tersebut, secara finansial investasi resort ini layak untuk dilaksanakan.

 

Updated : 16/12/2016/YH