Informasi Layanan Publik

Angka Pengenal Importir (API)

Keterangan Umum: 

Penggolongan Angka Pengenal Importir (API) :

  1. Angka Pengenal Importir Umum (API-U) yaitu API yang diberikan kepada perusahaan untuk melakukan Impor Barang Tertentu untuk tujuan diperdagangkan.
  2. Angka Pengenal Importir Produsen (API-P) yaitu API yang diberikan kepada perusahaan untuk melakukan Impor Barang untuk dipakai sendiri sebagai barang modal, bahan baku, bahan penolong, dan/atau bahan untuk mendukung produksi.

Pembagian Kewenangan (diatur Pasal 17 s.d. 21 Peraturan Menteri perdagangan RI 27/M.DAG/PER/5/2012 jo 59/M.DAG/PER/9/2012) :

  • Kewenangan Pusat :
    1. API-P oleh Direktur Jenderal Kementerian Perdagangan, untuk Badan Usaha atau Kontraktor di bidang energi, minyak dan gas bumi, mineral serta pengelolaan SDA lainnya yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan perjanjian kontrak dengan Pemerintah RI. 
    2. API-U dan API-P oleh Kepala BKPM RI, untuk perusahaan penanaman modal yang izin usahanya diterbitkan oleh BKPM RI.
  • Kewenangan Pemerintah Provinsi :

Penerbitan API-U dan API-P selain untuk perusahaan penanaman modal yang izin usahanya diterbitkan oleh BKPM RI dan untuk Badan Usaha atau Kontraktor di bidang energi, minyak dan gas bumi, mineral serta pengelolaan SDA lainnya yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan perjanjian kontrak dengan Pemerintah RI

Dasar Hukum: 
  1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan;
  2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas menjadi Undang-Undang;
  3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
  4. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
  5. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian;
  6. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan;
  7. PP Nomor 13 Tahun 1995 tentang Izin Usaha Industri;
  8. Peraturan Menteri Perdagangan RI 27/M.DAG/PER/5/2012 tentang Ketentuan Angka Pengenal Importir sebagaimana telah diubah dengan 59/M.DAG/PER/9/2012.
Persyaratan: 

A.   PERSYARATAN ADMINISTRASI

  1. Surat permohonan bermeterai cukup menggunakan formulir khusus Angka Pengenal Importir (API) dalam rangkap 2 (dua) dari Pimpinan Perusahaan yang ditujukan kepada Gubernur Kepulauan Bangka Belitung u.p. Kepala BP2TPM Provinsi Kepulauan Bangka Belitung;
  2. Fotokopi Akta Pendirian Perusahaan dan Perubahannya jika ada;
  3. Fotokopi surat keterangan domisili kantor pusat perusahaan yang masih berlaku dari kantor kelurahan setempat atau perjanjian sewa tempat berusaha dengan pengelola atau pemilik bangunan;
  4. Fotokopi pendaftaran penanaman modal atau izin prinsip (jika ada)
  5. Fotokopi Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan/atau Izin Usaha lain yang sejenis yang diterbitkan oleh instansi/dinas teknis yang berwenang di bidang perdagangan atau penanaman modal;
  6. Fotokopi Tanda Daftar Perusahaan (TDP);
  7. Fotokopi Nomor Pokok wajib Pajak (NPWP) perusahaan atau perseorangan dan penanggung jawab perusahaan;
  8. Referensi dari Bank Devisa;
  9. Fotokopi KTP atau Paspor dari Pengurus atau Direksi Perusahaan;
  10. Pas foto terakhir dengan latar belakang warna merah masing-masing Pengurus atau Direksi Perusahaan 2 (dua) lembar ukuran 3 x 4 cm.

B. PERSYARATAN TEKNIS  : DILAKUKAN SURVEI OLEH Dinas kabupaten/Kota didampingi SKPD TEKNIS PROVINSI MELALUI TIM TEKNIS PTSP

Melampirkan Berita Acara Pemeriksaan Lapangan oleh Dinas Perindustrian Perdagangan Kabupaten/Kota. Namun jika dalam 3 (tiga) hari kerja Dinas Perindustrian Perdagangan Kabupaten/Kota tidak melakukan pemeriksaan, maka Dinas Perindustrian Perdagangan Provinsi dapat langsung melakukan pemeriksaan di lapangan yg diselesaikan paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak permohonan diterima (diatur Pasal 25 Peraturan Menteri Perdagangan RI 27/M.DAG/PER/5/2012 jo 59/M.DAG/PER/9/2012)

Biaya: 
Rp.0,- (nol rupiah)
Waktu Penyelesaian: 

Maksimal 5 (lima) hari kerja terhitung sejak berkas dinyatakan LENGKAP

Angka Pengenal Importir (API) berlaku selama perusahaan masih menjalankan kegiatan usahanya, dan wajib didaftar ulang setiap 5 (lima) tahun sekali